Pesona Daun Puring

Puring (Codiaeum variegatum), adalah tanaman hias daun berbentuk perdu dengan bentuk serta warna daun yang sangat bervariasi. Beragam jenis sudah dikembangkan dengan variasi warna dari merah, kuning, jingga, hijau, ungu, dan variasi campurannya. Bentuk daun pun bermacam-macam: oval, tepi bergelombang, memanjang dan sebagainya.

Tanaman yang memiliki daun dengan banyak corak warna ini ditanam sebagai penghias taman, untuk pagar rumah, atau sebagai tanaman peneduh di makam-makam. Keindahan warna-warni daunnya yang sangat menarik mulai memikat hati para penggemar tanaman hias. Puring bukan lagi sebagai tanaman pagar atau tanaman kuburan. Tanaman ini telah menjelma menjadi salah satu tanaman hias incaran kolektor tanaman.

Puring termasuk tanaman tahan panas. Beberapa jenisnya mampu tumbuh baik pada suhu 30° C, tetapi ada jenis yang hanya hidup pada suhu 18 — 20° C. Puring berdaun kecil lebih kuat hidup pada cuaca panas. Semakin panas suhu di lokasi tanam, warna daunnya akan semakin indah. Sebaliknya, warna hijau akan semakin bagus bila tanaman berada di lokasi yang miskin cahaya matahari. Tanaman ini tidak tahan hidup di daerah yang suhunya ada di bawah 15° C, karena akarnya akan mudah busuk dan pertumbuhan daunnya tidak sempurna.

Daun Puring yang Mempesona

Bentuk daun puring memang bervariasi, dari yang kecil seperti teri, yang melintir seperti mie, melebar seperti ikan, memanjang seperti dasi, membulat seperti apel, hingga berbentuk seperti lele. Selain bentuknya yang unik, kombinasi warna daunnya pun sangat beragam. Ada sekitar delapan warna dasar puring yang saling berkombinasi menghias daun-daunnya. Warna-warna tersebut antara lain, hijau, kuning, merah, hitam, cokelat, krem, pink, dan warna emas. Warna-warna tersebut tergurat pada lempengan daun, menampilkan keindahan kombinasi warna yang sangat eksotis.

Daun puring memiliki corak warna seperti lukisan. Ada yang bersemburat seperti lukisan abstrak atau ekspresionis, ada yang bertotol-totol seperti pada macan atau polkadot, ada yang bergaris-garis seperti pada kobra, ada yang coraknya kotak-kotak seperti pada kura.

Perbanyakan Puring

Puring merupakan tanaman yang berbatang keras atau berkayu, sehingga gampang disetek atau dicangkok. Agar hasilnya optimal, tanaman dicangkok selama kurang lebih dua minggu hingga batang cangkokan berakar, baru kemudian ditanam di dalam pot.

Perbanyakan puring dengan cara setek batang juga banyak dilakukan, tetapi hasilnya kurang optimal. Tanaman sering mengalami busuk pada akar, dan menyebabkan kerontokan daun ketika batang setekan baru ditanam. Hal ini menyebabkan tanaman butuh waktu yang lebih lama untuk memulai pertumbuhan daun baru. Dengan setek batang dibutuhkan waktu sekitar tiga bulan hingga tanaman ini memiliki daun yang rimbun.

Menanam dan Merawat Puring

Media Tanam

Media tanam yang baik untuk puring adalah yang tidak terlalu porous dan tidak terlalu keras. Media tanam yang sering digunakan untuk menanamnya antara lain tanah, sekam bakar atau sekam mentah, cocopeat, dan kompos atau pupuk kandang dengan perbandingan 1:1:1:1.  Tanah bermanfaat untuk menopang akar mencagah tumbangnya tanaman saat tertiup angin kencang. Keasaman media tanam (pH) yang cocok untuk pertumbuhan tanaman ini adalah 5—6.

Penyiraman

Penyiraman yang teratur dan tepat akan melebatkan daun puring. Saat cuaca normal, tanaman ini membutuhkan penyiraman sekali sehari. Saat musim kemarau, tanaman ini disiram dua kali sehari. intensitas penyiraman juga harus disesuaikan dengan tingkat keporousan media tanam yang digunakan, misalnya penyiraman cukup 1 kali sehari untuk media tanam yang kurang porous.

Intensitas Sinar

Jenis puring yang berdaun lebar sangat sensitif terhadap intensitas sinar matahari. Bila terlalu banyak terkena paparan sinar matahari, daun-daunnya akan layu, atau mati terbakar. Karena itu, pemasangan peneduh atau paranet juga dibutuhkan untuk menaungi tanaman. Umumnya, tanaman ini menggunakan paranet 50%. Intensitas yang menembus paranet tersebut sebesar 50%.

Pemupukan

Puring yang ditanam di pot harus sering diberi pupuk, karena ketersediaan nutrisi media tanam yang terbatas. Pupuk yang digunakan dapat berupa pupuk organik ataupun pupuk anorganik. Memupuknya menggunakan pupuk yang mengandung unsur hara P dan K. Unsur tesebut penting untuk pertumbuhan tanaman dan peningkatan warna daun. Waktu pemupukan terbaik adalah pagi hari sebelum jam 9 atau sore hari setelah jam 3. Pemupukan bisa lebih efektif diberikan sebagai pengganti penyiraman, dengan kata lain bila telah disiram pupuk, tidak perlu disiram air lagi.

 

Related Post