Hama dan Penyakit Tanaman Bunga Matahari

Hama dan penyakit, seringkali menjadi kendala dalam budidaya tanaman setiap komoditas pertanian.
Berbagai jenis serangga hama tanaman bunga matahari telah dilaporkan di Amerika Utara, di antaranya adalah

  • kepik hijau Nezara viridula dan ulat penggerek Helicoverpa armigera yang merupakan hama utama pada bagian biji
  • wereng daun Amrasca biguttula biguttula Ish. serta ulat gerayak Spodoptera litura yang merupakan hama minor pada bagian daun maupun bunga matahari 
  • Ulat bulu Amsacta transiens, Clostera restitura, Euproctis virguncula, ulat kantung, ulat jengkal, dan belalang Oxya sp, dapat dijumpai di pertanaman bunga matahari, walaupun diduga tanaman ini bukan merupakan inang utamanya.

Penyakit yang ditemukan pada tanaman bunga matahari adalah

  • layu fusarium (Fusarium sp.),
  • bercak daun (Choanephora sp. dan Curvularia sp.),
  • busuk bunga (Rhizopus sp.), dan
  • hawar alternaria (Alternaria sp.).

Kepik Hijau

Kepik hijau merupakan hama penting di daerah tropik. Hama ini bersifat polifag pada pertanaman padi, tomat, cabai, kapas dan lain-lain. Di Amerika Utara, kepik ini dilaporkan sebagai hama primer biji bunga matahari.

Kepik hijau memiliki panjang tubuh 16 mm. Selama hidupnya, imago betina mampu meletakkan 10-90 butir tersusun dalam kelompok di permukaan daun. Perkembangan telur menjadi dewasa membutuhkan waktu 4- 8 minggu. Siklus hidup kepik 60-80 hari, maksimum mencapai 6 bulan. Imago betina menyerang tanaman fase pembungaan, sehingga menimbulkan kerusakan pada biji yang sedang berkembang.

Kerusakan utama tidak hanya disebabkan oleh tusukan dan hisapan nimfa dan imago kepik secara langsung, melainkan disertai racun yang diinjeksikan dari kelenjar ludah kepik. Racun ini dapat menimbulkan kelayuan daun dan pucuk daun serta kematian tanaman. Kerusakan pada biji bunga matahari menunjukkan gejala biji kempis.

Cara pengendalian yang tepat untuk menekan perkembangan hama ini dapat dilakukan dengan mengumpulkan telur dan nimfanya kemudian dimusnahkan. Cara pengendalian hayati dilakukan dengan memanfaatkan tabuhan parasitoid telur Ooencyrtus malayensis (Ferr.) dan Telenomus sp.

Ulat Grayak

Spodoptera litura merupakan salah satu hama daun pada pertanaman bunga matahari. Di Indonesia, hama ini dianggap penting, karena bersifat polifag dan sering menyerang berbagai komoditas tanaman seperti kedelai, kacang tanah, kubis, ubi jalar, kentang, dan lain-lain. Ulat umumnya menyerang tanaman budidaya pada fase vegetatif, yaitu memakan daun tanaman muda dengan menyisakan tulang daun saja dan pada fase generatif saat tanaman mulai berbunga dan berbuah. Serangan S. litura menyebabkan kerusakan sekitar 12,5% dan lebih 20% pada tanaman kedelai umur lebih dari 20 hst.

Ngengat meletakkan telur dalam kelompok yang terdiri atas beberapa ratus butir telur di permukaan atas daun. Puncak peneluran terjadi pada malam kedua setelah eklosi. Ngengat betina kawin 3-4 kali selama hidupnya, sedangkan ngengat jantan kawin hingga 10 kali. Seekor ngengat dapat meletakkan 2000-2600 telur dalam waktu 6-8 hari. Kelompok telur dututupi oleh rambut atau sisik imago. Stadia telur 2-3 hari.

Larva muda umumnya berwarna kehijauan. Stadia Larva  yang sangat berbahaya bagi tanaman, karena perilaku makannya yang rakus dan pada kepadatan populasi yang tinggi dapat menggunduli seluruh daun tanaman. Lama stadia larva berkisar antara 20-26 hari. Pupa berkembang di dalam tanah di dekat tanaman inang. Stadia pupa berkisar antara 7-10 hari.

Usaha pengendalian S. litura pada tanaman bunga matahari dilaporkan dengan menggunakan teknik pengendalian hama terpadu (PHT), yaitu dengan cara menanam tanaman perangkap jarak pagar yang menarik S. litura di sekeliling dan di dalam pertanaman. Pengendalian lain dapat dilakukan dengan penyemprotan insektisida.

Wereng Daun

Wereng hijau bersifat polifag, dilaporkan sebagai hama utama pada tanaman bunga matahari. Hama ini juga menyerang inang lain seperti okra (Abelmoschus esculentus), kacang tanah, kedelai, terung, dan kentang. Selain itu dapat hidup pada tanaman bayam, tomat, lobak, dan jagung. Persebaran hama ini meliputi daerah Indonesia, India, Bangladesh, Nepal, Pakistan, Afghanistan, Vietnam, Jepang, Cina, Taiwan dan Kepulauan Pasifik.

Tubuh imago wereng berwarna hijau kekuningan dengan sepasang bercak hitam jelas terletak di bagian verteks kepala dan di areal ujung sayap depan. Panjang tubuhnya sekitar 2,5 mm. Sayap depan memiliki jumbai berwana hijau kecokelatan dan tungkai berwarna hijau.

Pada siang hari, serangga ini tinggal di bawah permukaan daun, sedangkan pada sore hari kadang-kadang bergerak naik ke permukaan daun. Jika wereng terganggu, dia akan lari menyamping dengan cepat untuk mencari tempat yang aman. Imago mampu terbang cukup jauh, terutama jika ada angin.

Lama hidup imago 11 hari. Imago betina menyisipkan telur di bagian mesofil helaian daun muda atau di dalam tangkai daun. Seekor imago menghasilkan 17-38 telur selama hidupnya. Telur berwarna putih
kekuningan, panjang 0.73 mm dan lebar 0.24 mm

Wereng A. biguttula biguttula tidak diketahui menularkan penyakit yang disebabkan oleh virus ataupun mikoplasma. Gejala awal kerusakan yang diakibatkan oleh isapan wereng ini adalah menguningnya daun, diikuti dengan pengerutan disekitar tepi daun, dan kemudian daun mengeriting dengan lengkungan menghadap ke arah atas. Ujung dan tepi daun berkembang menjadi daerah nekrotik. Stadium lanjut seluruh daun menjadi kecokelatan. Kerusakan berat menyebabkan tanaman kerdil.

Pengendalian wereng ini digunakan penanaman tumpang sari antara tanaman kapas, tanaman bunga matahari, dan kacang hijau atau tanaman bunga matahari dengan okra. Musuh alami hama ini adalah predator dari famili Coccinellidae dan Chrysopidae, parasit telur Mymaridae, parasit nimfa dan imago Dyrinidae. Di dataran India, dilaporkan bahwa dengan ketiadaan musuh alami yang efektif, pengendalian hama ini dibantu dengan menggunakan insektisida yang berbahan aktif endosulfan, monokrotofos, dan karbaril

Belalang Oxya

Belalang ini merupakan hama utama tanaman padi dan tidak dilaporkan sebagai perusak tanaman bunga matahari. Nimfa dan imago dapat mengakibatkan kerusakan yang parah. Gejala yang ditinggalkan oleh
belalang adalah gerigitan pada daun. Belalang mempunyai ciri-ciri tubuh berwarna kuning-hijau atau kuning-coklat dan terdapat garis gelap pada bagian punggung. Bagian tibia tungkai belakang berwarna kebiru-biruan.

Telur berbentuk seperti silinder, berukuran 4,5-5,2 mm, lebar 1,2-1,6 mm. Warna telur kuning atau coklat kekuningan. Imago meletakkan 15-30 telur di dalam tanah. Stadia telur 10 hari dan umumnya menetas pada pagi hari.

Pengendalian dapat dilakukan dengan pembajakan sawah hingga kedalaman 10-20 cm sehingga telur yang berada di permukaan tanah akan mati oleh panas sinar matahari atau dimakan oleh musuh-musuh alami.
Dengan cara ini pula, telur akan terkubur dalam tanah sehingga telur yang menetas akan berkurang. Pengendalian dengan membajak sawah mampu mengendalikan hama hingga 70-80%. Pengendalian secara kimia dapat digunakan insektisida yang berbahan aktif piretroid, metamidofos, organofosfat,
klordimeform hidroklorida, asam tiosulfurik, dan BHC (gammaxene).

Fusarium

Fusarium merupakan cendawan patogen yang banyak menyerang sayuran, tanaman perkebunan, dan tanaman hias. Tanaman yang biasanya diserang oleh patogen ini adalah kapas, pisang, tebu, tembakau, dan kopi. Patogen ini merupakan patogen tular tanah, oleh karena itu mampu bertahan lama dalam tanah. Tanah yang sudah terinfeksi sukar dibebaskan kembali dari cendawan ini. Cendawan ini menginfeksi bagian akar, terutama pada bagian pelukaan, lalu menetap dan berkembang di berkas pembuluh.

Pemencaran cendawan dapat terjadi melalui pengangkutan bibit, tanah yang terbawa angin atau air, dan terbawa oleh alat pertanian. Penyakit berkembang pada suhu tanah 21-33 °C. Suhu optimumnya adalah 28 °C. Kelembaban tanah selain membantu pertumbuhan tanaman, juga dapat membantu perkembangan penyakit. Tanaman yang terinfeksi patogen ini akan mengalami gangguan dalam pengangkutan air dan hara tanah sehingga menyebabkan tanaman menjadi layu. Gejala serangan patogen akan terjadi lebih berat pada tanaman yang tumbuh pada tanah yang mengandung banyak unsur nitrogen tetapi miskin akan unsur kalium.

Cara pengendalian yang dapat dilakukan adalah meningkatkan suhu tanah dengan menggunakan mulsa plastik atau penanaman varietas tahan. Pengendalian dengan pestisida kurang memberikan harapan atau tidak memberikan hasil yang memuaskan.

Related Post